Pengembangan kompetensi merupakan bagian penting dalam membangun ASN yang profesional dan berkinerja optimal. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN menempatkan pengembangan kompetensi sebagai bagian penting dalam pengelolaan ASN dan menegaskan perlunya pengembangan kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan jabatan dan organisasi. Bagi Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN), kebutuhan tersebut menjadi semakin penting karena isu pengawasan obat dan makanan terus berkembang seiring munculnya berbagai produk, bahan, teknologi, dan inovasi baru yang semakin cepat dan beragam.
Menjawab Perubahan melalui Penguatan Kompetensi SDM
Perkembangan produk obat, obat bahan alam, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan menuntut kemampuan pengawasan yang adaptif agar risiko terhadap keamanan, mutu, dan manfaat produk dapat diantisipasi secara cepat dan tepat. Perkembangan tersebut berdampak langsung pada kebutuhan kompetensi SDM laboratorium karena metode analisis, instrumen, teknologi pengujian, serta persyaratan regulasi juga terus berubah. SDM laboratorium tidak cukup hanya memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai, tetapi juga harus mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memenuhi standar kompetensi yang dipersyaratkan. Laboratorium yang unggul bukan hanya laboratorium yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi juga laboratorium yang memiliki personel kompeten, metode yang andal, sistem mutu yang kuat, serta kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi terhadap tantangan pengawasan obat dan makanan di masa depan. Oleh karena itu, pengembangan kompetensi perlu dilakukan secara terencana dan berkelanjutan berdasarkan kebutuhan nyata organisasi dan individu agar PPPOMN mampu mendukung pengawasan obat dan makanan yang semakin kompleks dan dinamis.
Mengidentifikasi Gap, Menguatkan Kompetensi
Badan POM melakukan pemutakhiran data kompetensi melalui pemetaan kompetensi yang dilakukan secara rutin untuk melihat kompetensi pegawai. Pemetaan mencakup kompetensi teknis serta kompetensi manajerial dan sosial-kultural untuk memberikan gambaran mengenai kompetensi yang telah dimiliki dan kompetensi yang masih perlu diperkuat. Hasil pemetaan menjadi salah satu dasar dalam menyesuaikan kompetensi ASN dengan kebutuhan jabatan dan fungsi organisasi. Selain pemetaan kompetensi tersebut, PPPOMN secara spesifik juga melakukan identifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan tugas pengawasan obat dan makanan, khususnya di bidang laboratorium. Pengembangan kompetensi teknis laboratorium harus dilakukan secara berkelanjutan karena berkembangnya teknologi dan produk yang beredar di masyarakat.
Berdasarkan pemetaan dan identifikasi kebutuhan pelatihan tersebut, dapat diketahui adanya gap kompetensi. Di PPPOMN, gap kompetensi dapat muncul akibat perkembangan metode pengujian, penggunaan instrumen baru, penerapan metode cepat atau metode alternatif, perubahan regulasi, tuntutan akreditasi, digitalisasi laboratorium, serta penerapan prinsip green laboratory. Identifikasi gap kompetensi membantu organisasi menentukan kompetensi yang bersifat kritis dan perlu menjadi prioritas pengembangan. Dalam menjawab tantangan pengawasan obat dan makanan, kompetensi yang masih perlu dikembangkan misalnya adalah terkait kompetensi dalam penerapan rapid and alternative methods, perkuatan digitalisasi laboratorium, pemenuhan terhadap standar internasional terkini serta penerapan metode analisis yang lebih ramah lingkungan (green analytical methods). Dengan mengetahui gap tersebut, pengembangan kompetensi dapat diarahkan pada kebutuhan yang benar-benar memberikan dampak terhadap pelaksanaan tugas. Setiap ASN juga dapat memperoleh bentuk pengembangan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan kompetensinya. Pendekatan ini membuat pengembangan SDM menjadi lebih terarah, efisien, dan relevan dengan kebutuhan PPPOMN.
Pengembangan Kompetensi SDM Menuju Laboratorium Masa Depan
Pengembangan kompetensi dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, seperti pendidikan, pelatihan, coaching, mentoring, benchmarking, on-the-job training dan pelatihan berbasis praktik. Bagi SDM laboratorium, pembelajaran berbasis praktik menjadi penting agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat langsung diterapkan dalam melaksanakan tugas. Pengembangan kompetensi juga perlu berorientasi pada kompetensi yang harus dikuasai di masa mendatang sehingga ASN juga siap menghadapi perkembangan teknologi pengujian berikutnya. PPPOMN secara rutin aktif menyelenggarakan dan mengikuti berbagai kegiatan seperti seminar, workshop dan pelatihan, baik yang bersifat teknis maupun kompetensi lain yang mendukung pelaksanaan tugas yang melibatkan narasumber dalam negeri dan luar negeri. Pada tahun 2026, PPPOMN telah menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “The Laboratory Future: Sustainability in Innovation and Operations” sebagai salah satu upaya strategis untuk memperkuat kompetensi dan kapasitas laboratorium dalam menghadapi tantangan pengujian di masa depan. Kegiatan ini menjadi forum ilmiah berskala internasional yang menghadirkan pakar dari berbagai negara untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inovasi terkini dalam mewujudkan laboratorium yang inovatif, efisien, dan berkelanjutan.
Setiap program pengembangan kompetensi perlu memiliki tujuan dan indikator yang jelas sehingga manfaatnya dapat diukur. Evaluasi tidak cukup dilakukan berdasarkan jumlah pelatihan atau jam pelajaran yang diperoleh, tetapi juga perlu melihat peningkatan kemampuan, perubahan perilaku kerja, serta penerapan kompetensi dalam pelaksanaan tugas. Dengan demikian, pengembangan kompetensi tidak hanya menjadi kegiatan peningkatan kapasitas individu, tetapi juga merupakan investasi strategis bagi organisasi yang memberikan manfaat nyata terhadap peningkatan kinerja, kualitas pengujian, dan efektivitas pengawasan obat dan makanan. ASN yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan saat ini sekaligus siap menghadapi tuntutan masa depan akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan laboratorium yang tangguh, adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.
Tim SDM - PPPOMN