Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menutup tahun 2025 dengan sebuah capaian monumental. Pada Jumat (14/11/2025), BPOM secara resmi dinobatkan oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas keberhasilannya memproduksi dan menyediakan jenis Senyawa Baku Pembanding (Reference Standard Material) paling banyak di tanah air.
Prestasi bergengsi ini dicapai karena BPOM berhasil mengembangkan dan saat ini menyediakan 810 jenis baku pembanding secara mandiri. Ketersediaan varian baku pembanding sebanyak ini menjadi bukti nyata keseriusan BPOM. Capaian tersebut merupakan tonggak sejarah yang mengukuhkan posisi Indonesia menuju swasembada (kemandirian) dalam sistem pengujian dan pengawasan kualitas obat dan makanan.
Baku Pembanding adalah material otentik dan teruji kemurniannya yang berfungsi sebagai tolok ukur utama dalam analisis laboratorium. Keberadaannya sangat vital karena menjadi penentu keabsahan dan akurasi hasil pengujian sampel baik itu obat, suplemen, maupun pangan.
Inisiatif pengembangan ini menawarkan manfaat strategis ganda: tidak hanya memangkas ketergantungan pada impor, tetapi juga secara signifikan memperkuat integritas sistem pengawasan mutu nasional. Menurut Taruna Ikrar, hal ini adalah wujud nyata dari hilirisasi hasil penelitian yang berkontribusi langsung pada ketahanan bangsa.
BPOM memproduksi dua kategori utama baku pembanding: Baku Pembanding Farmakope Indonesia (BPFI) dan Baku Pembanding Laboratorium (BPL). Produk-produk ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan internal, tetapi juga disalurkan kepada pihak eksternal.
Pemanfaatan oleh lembaga luar seperti perguruan tinggi, laboratorium swasta, dan badan pemerintah dilayani melalui skema penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Dalam periode sembilan bulan, terhitung sejak Januari hingga September 2025, BPOM mencatat distribusi baku pembanding yang sangat masif. Ribuan vial baku pembanding telah disalurkan, menunjukkan tingginya pemanfaatan standar ini, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, sebanyak 4.740 vial didistribusikan ke seluruh laboratorium BPOM di Indonesia untuk mendukung operasional pengawasan dan pengujian rutin. Sementara itu, 4.246 vial lainnya berhasil didistribusikan kepada laboratorium eksternal—meliputi perguruan tinggi, laboratorium swasta, dan lembaga pemerintah lainnya—yang secara jelas memperlihatkan tingginya kepercayaan pihak luar terhadap kualitas standar yang diproduksi secara mandiri oleh BPOM.
Dengan ketersediaan 810 jenis baku pembanding dan distribusi yang masif, BPOM telah menempatkan diri sebagai pelopor dalam menjamin mutu hasil pengujian di Indonesia, sekaligus mengurangi risiko yang timbul dari produk obat dan makanan yang tidak terjamin kualitasnya.